Selama bertahun-tahun batik di kantor identik dengan seragam hari tertentu. Pola dan warnanya seragam, dipilihkan, bukan dipilih.
Perubahan datang dari generasi yang mulai membeli batik atas nama selera sendiri — memilih motif karena ceritanya, bukan karena instruksi.
Pergeseran kecil itu yang membuat pembatik kembali punya ruang untuk mengerjakan pesanan yang tidak seragam.