Surakarta, Jawa Tengah, Jawa
Nama "parang" berasal dari kata pereng, lereng. Garisnya menurun miring seperti deretan ombak yang membentur karang: patah, lalu tersusun kembali, tanpa pernah berhenti.Barong mena...
Nama "parang" berasal dari kata pereng, lereng. Garisnya menurun miring seperti deretan ombak yang membentur karang: patah, lalu tersusun kembali, tanpa pernah berhenti.
Barong menandai ukuran paling besar. Dalam tata busana Kasunanan Surakarta, ukuran itu dahulu menjadi penanda derajat — makin besar parangnya, makin tinggi kedudukan pemakainya.
Garis yang tidak pernah putus dibaca sebagai perjuangan yang tidak boleh berhenti pada patahan pertama. Deretan mata gareng di antaranya melambangkan kesinambungan antargenerasi.
Karena itulah parang kerap dipakai pada peristiwa yang menuntut ketetapan hati: pelantikan, pernikahan, dan penyerahan tanggung jawab.
Dikerjakan penuh dengan canting tulis. Garis diagonal panjang menuntut tarikan tangan yang stabil — satu getaran akan terbaca sepanjang kain.
Pewarnaan memakai soga alam berlapis, dicelup dan diangin-anginkan berulang kali hingga belasan putaran sebelum malam diluruhkan pada tahap nglorod.
Dahulu terbatas pada lingkungan keraton. Kini dipakai luas untuk busana formal, meski beberapa keluarga masih menghindarinya pada acara duka.
Termasuk motif larangan (awisan dalem) pada masa Kasunanan. Aturannya tidak lagi mengikat, tetapi ukuran barong tetap dianggap sebagai bentuk paling formal dalam keluarga parang.
Motif Parang Barong hanya boleh dikenakan Sultan dan keluarga kerajaan—pelanggaran bisa berakibat hukuman berat.
Pilih warna, kain, dan detail finishing untuk batik Anda sendiri.
Mulai Personalisasi